Tari Jaipong, tarian legendaris budaya Sunda

Budaya Sunda merupakan salah satu budaya paling kaya di Indonesia; dan beragam karya yang dihasilkan dari kekayaan ini sudah memiliki reputasi yang sangat terkenal tidak hanya di Indonesia, tetapi bahkan juga di mancanegara.

Siapa yang tidak mengenal karya-karya seperti Angklung, atau Sisingaan, atau Wayang Golek? Selain karya-karya tersebut ini, ada juga satu hasil kebudayaan Sunda yang juga memiliki reputasi sangat terkenal yang pasti sudah anda pernah dengar: tari Jaipong.

Sebagai perusahaan manajemen perhotelan yang memiliki jumlah Hotel terbanyak di Bandung, KAGUM Hotels selalu mengapresiasi kekayaan budaya Sunda atau budaya-budaya yang lahir di kota ini dan setiap memungkinkan, selalu mempromosikan beragam kekayaan kreatif yang lahir dari kultur ini. Nah, dengan semangat itu, di kesempatan kali ini, yuk kita mengenal tari Jaipong lebih dekat!

Tari Jaipong (source)

SEJARAH TARI JAIPONG

Adalah kreativitas seorang asal Bandung bernama Gugum Gumbira yang pertama kali melahirkan tarian ini. Tari jaipong lahir dari pengembangan pola-pola gerak tari beragam kesenian tradisi rakyat seperti Ketuk Tilu. Gugum Gumbira terutamanya terinspirasi dari pementasan karya seni yang dilakukan oleh seniman berbakat asal Karawang bernama Haji Suanda yang mencampurkan gerakan-gerakan pencak silat, wayang golek, dan ketuk tilu, untuk kemudian diiringi beragam alat musik seperti Degung, Gendang, Gong dan alat musik ketuk lainnya, untuk sebuah tarian yang sangat energetik.

Gugum Gumbira (paling kanan), seniman asal Bandung yang menciptakan Tari Jaipong (source)

Tarian ini mengalami perkembangan pesat pada tahun 1979; pementasan Tari Jaipong menjadi sesuatu yang lumrah terjadi di beragam daerah di Jawa Barat seperti Cianjur, Sukabumi, atau bahkan Bogor. Seiring waktu berjalan, area-area di luar Jawa Barat pun semakin mengenal bentuk tari yang mengagumkan ini. Tokoh-tokoh penari Jaipong bermunculan, seperti misalkan Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kirniadi.

GAYA KHAS TARI JAIPONG

Tari Jaipong memiliki 4 ragam gerakan dasar yang unik:

Bukaan – Gerakan pembuka saat pementasan jaipong dimulai. Biasanya penari jaipong akan melakukan gerakan memutar serta memainkan selendang yang dikalungkan di lehernya. Penari melakukan gerakan tersebut dengan lemah gemulai untuk menarik perhatian pentonton.

Pencungan – Gerakan ini adalah gerak tari dengan tempo cepat yang diiringi musik dan lagu yang juga bertempo cepat, dan memiliki energi yang tinggi.

Ngala – Gerakan ini berupa gerak patah-patah. Perpindahan dari titik ke titik berikutnya dilakukan dengan sangat cepat. Gerakan ini memberikan Tari Jaipong identitasnya yang unik.

Mincit – Gerakan mencit adalah tahap perpindahan dari satu jenis gerakan ke gerakan lain. Penari akan melakukan mencit sebelum gerakan ngala.

4 dasar gerakan Tari Jaipong memberikan kesan yang sangat unik di setiap pementasan (source)

Dalam melakukan pertunjukannya, para penari Jaipong menggunakan irama pengiring musik sebagai panduan gerakan yang dilakukan. Tempo lagu yang dimainkan cepat dan didominasi oleh suara gendang, walaupun terdapat juga instrumen-instrumen musik lainnya yang umum digunakan di setiap pertunjukan Tari Jaipong seperti rebab, gong, kecrek, dan kecapi.

KOSTUM PENARI JAIPONG

Walau corak atau warna atau gaya dari kostum penari Jaipong itu disesuaikan dengan pertunjukan atau tema-tema tertentu yang ingin ditampilkan, secara umum terdapat beragam aksesoris kostum yang bisa dikatakan wajib digunakan oleh setiap penari, yaitu:

Sampur: Dalam bahasa Indonesia, sampur berarti selendang atau kain panjang. Sampur wajib digunakan oleh si penari Jaipong, baik diikatkan di pinggang atau digantungkan di leher. Hampir setiap gerakan Tari Jaipong melibatkan gerakan dengan sampur.

Sampur yang dipergunakan ketika melakukan Tari Jaipong (source)

Apok: Merupakan sebutan untuk baju atasan si penari Jaipong. Apok memiliki kancing dan dihiasi oleh bordiran berbentuk bunga dan daun di sudut-sudut pakaian, modelnya tidak jauh berbeda dengan baju kebaya tradisional. Apok biasa menggunakan warna terang seperti kuning, merah, atau biru muda.

Sinjang: Merupakan bawahan dari Apok. Sinjang ini berupa kain mirip celana yang diikatkan pada pinggang hingga kaki. Meskipun saat ini penari Jaipong banyak mengenakan Sinjang dengan beragam model dan kreasi.

Nah, jadi gimana? Sedikit banyak jadi lebih tahu mengenai salah satu ekspresi kesenian budaya Sunda yang mengagumkan ini, bukan? Ayo kita terus jaga keakraban kita dengan kekayaan budaya Indonesia, karena apa yang menjadi khas Indonesia juga tidak kalah dengan bentuk seni lainnya di dunia!

About Author /

Start typing and press Enter to search